إصلاح العائلة "TERLALU SERIUS" BERUMAH TANGGA?"

Ilustrasi By Google Pasangan suami istri memerlukan rehat sejenak. Kadang mereka “terlalu serius” dalam menjalani kehidupan berumah tan...

Ilustrasi By Google
Pasangan suami istri memerlukan rehat sejenak. Kadang mereka “terlalu serius” dalam menjalani kehidupan berumah tangga, mereka kelelahan dan akhirnya dihinggapi kejenuhan.

Studi yang dilakukan DeFrain dan tim (1999) di 40 negara memberikan hasil, humor menjadi hal penting dalam membangun kekuatan keluarga.

Hendaknya suami dan istri sesekali waktu mengambil cuti dari kesibukan kerja. Hang out berdua. Alokasikan waktu bersama untuk sebuah rekreasi, baik secara spiritual, emosional, ataupun intelektual.

Menghabiskan waktu berdua untuk bercengkerama menikmati hari-hari yang sengaja dikosongkan dari semua agenda lainnya. Selipkan humor dalam aktivitas bersama pasangan.

Jika suami tidak mampu mengungkapkan kata-kata mesra, maka bisa diganti dengan berbagai bentuk perhatian dan kejutan bagi istri tercinta.

Sekedar memberikan hadiah setiap pulang kerja, dengan benda-benda kecil yang diperlukan istri setiap hari, akan membuatnya merasa diperhatikan. Misalnya memberikan hadiah kucir rambut yang harganya tidak seberapa, namun menjadikan kesan yang mendalam bagi sang istri.

Jadilah manusia yang mengerti seni menyentuh hati istri, jangan kelewat rasional. Sikap suami yang terlalu rasional dalam kehidupan keluarga, bisa mengabaikan sentuhan perasaan dan hati.

Menganggap istri hanya memerlukan makan, pakaian dan tempat tinggal. Menganggap istri hanya memerlukan materi.

Padahal istri adalah manusia yang lengkap dengan segala kebutuhan hidupnya. Istri memerlukan pengertian, perhatian, cinta, dan kasih sayang.

Demikian pula sebaliknya, para istri hendaknya bisa merasakan cinta suami yang terkespresikan melalui berbagai bentuk perbuatan nyata. Tidak ada lelaki sempurna yang bisa memenuhi semua tuntutan dan keinginan istrinya.

Maka lihatlah berbagai sisi positif yang ada pada diri suami. Atas kerja kerasnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga, atas jerih payahnya dalam usaha membahagiakan keluarga, atas kesungguhannya menunaikan kewajiban hidup sebagai kepala rumah tangga.

Itu semua dilakukan atas nama cinta.

Sumber: Ustadz Cahyadi Takariawan  (GWA/Zoom Adhie)

Related

Opini 5664272476905815673

Post a Comment Default Comments

emo-but-icon

item